Senin, 01 Mei 2017

Pembelajaran Berbasis Karakter





Selasa pagi ini seperti biasa aku berkumpul bersama 8 muridku untuk tilawah, dzikir Al Matsurat dan sholat Dhuha. Di koridor lantai 4 gedung Umar Sekolah Fajar Hidayah mulai pukul 07.00-08.00 adalah agenda rutin kami 3 kali sepekan setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis. Seluruh siswa dalam kelompok-kelompok kecil (halaqah) bersama satu guru pendamping.

Bagi siswa yang sudah baik tilawahnya dipromosikan oleh guru pendampingnya untuk bergabung ke dalam kelompok tahfidz khusus.  kelompok tahfidz khusus dibimbing oleh guru yang sudah hafidz 30 juz.

Saya ingin mengupas sisi pengembangan karakter yang didapat dari  kegiatan pagi (baca: tilawah, dhuha dan almatsurat) di sekolah kami. Khususnya dalam hal memaksimalkan pengembangan soft skill siswa. 

Disiplin
Setiap harinya siswa dan guru memulai tilawah pukul 07.00 pagi, diawali dengan membaca dzikir al matsurat secara bersama-sama. Setelah dzikir selesai dilanjutkan dengan tilawah. Satu persatu guru menyimak bacaan siswa sambil memberikan koreksi bacaan, baik hukum tajwidnya dan juga tahsinnya. Dan akan terus diulang hingga siswa membaca dengan benar. Disiplin dalam panjang-pendek serta pengucapan makharijul  huruf yang tepat harus dijaga selama tilawah. Di saat seorang siswa sedang tilawah maka siswa lainnya melaksanakan shalat dhuha. Khusus kelompok saya - setiap siswa tilawah minimal satu halaman al quran, dengan jumlah  8 siswa, kegiatan selesai tepat pukul 08.00. Guru pendamping mencatat nama surat dan batasan ayat yang dibaca setiap harinya dalam lembar pemantauan tilawah harian. 

Percaya diri
Melakukan kesalahan dalam proses adalah hal yang wajar. Disitulah siswa belajar dan menyadari makna ikhtiar, berusaha untuk terus mencoba hingga lancar tilawah sebagai upaya membangun kepercayaan diri siswa. 

Sabar
Untuk dapat tilawah dengan lancar siswa harus sabar dalam melatih dirinya agar terus meningkat kualitas bacaannya dan tentunya hal itu membutuhkan ketekunan dan komitmen yang kuat dari dalam diri. Dan motivasi yang terlahir dari dalam diri ( intrinsik) disinyalir lebih efektif dibandingkan dengan motivasi karena pengaruh luar (ektrinsik).

Tanggung jawab
Dalam kegiatan pagi, setiap siswa hendaknya menunaikan tiga hal ( dzikir almatsurat, tilawah dan shalat dhuha). Dan akan menjadi bagian evaluasi penilaian yang diintegrasikan dalam penilaian Pelajaran Agama Islam ( PAI) di akhir semester. Melalui pembiasaan untuk menunaikan kewajiban setiap harinya diharapkan  tumbuh menjadi karakter tanggung jawab dalam diri siswa. 

Kerja keras
Setiap siswa berkesempatan untuk naik ke jenjang tahfidz khusus, dengan syarat kualitas tilawahnya sudah baik. Pencapaian ini  menjadi reward bagi mereka. Tergabung ke dalam tahfidz khusus dinilai sebagai hal yang membanggakan oleh siswa. Dan mereka menyadari betul  untuk tergabung ke dalam kelompok tahfidz khusus harus ada usaha lebih yang dilakukan.


Kualitas pendidikan adalah tiang penyangga kemajuan suatu bangsa. Salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah mampu melahirkan generasi yang berkarakter.  Baik buruknya  (baca : kualitas pendidikan) ditentukan oleh proses yang dilakukan di sekolah. Orientasi proses pendidikan yang mengarah pada pengembangan karakter siswa seyogyanya menjadi target di setiap pembelajaran. Karena memang peran utama seorang guru adalah mendidik, bukan mengajar. 

Sekolah sabagai inkubator yang mampu menumbuhkan jiwa patriotisme generasi harapan bangsa  akan lebih mudah terealisasi bila prinsip progesivitas dalam Islam dimaknai dengan benar. Sabagaimana Allah telah berfirman dalam surat Al Ashr ayat 1-3 : " Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran. Dan nasihat menasihati supaya menetapi kebenaran". 
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar